Mudzakarah Ulama, Zu Ama, dan Cendikiawan Muslim di Banten

Sebagai sekretariat pusat Ahlul Halli Wal Aqdi, Yayasan AKUIS bertanggungjawab atas segala kegiatan dan acara yang dilakukan oleh para ulama dan dewan Ahlul Halli Wal Aqdi dalam menyukseskan program-programnya yang telah disepakati bersama. Oleh karena itu, pada acara Mudzakarah Ulama, Zu Ama, dan Cendikiawan Muslim yang diadakan di komplek kesultanan Banten, Banten Lama, Banten, yayasan AKUIS menjadi panitia pada acara tersebut. Yayasan AKUIS mengirim  utusan beserta sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mempersiapkan dan menyukseskan acara yang dicetuskan antara lain oleh ketua satu Ahlul Halli Wal Aqdi, TB. Fathul Adzhim Chatib itu.

Tiga hari sebelum acara diselenggarakan, para utusan dan sarana prasarana dikirim dari Palembang menuju Banten. Para utusan tersebut berjumlah 25 orang. Terdiri dari beberapa seksi petugas, antara lain seksi acara yang diketuai ustadz Pauzi Lazir beserta kru, seksi dokumentasi; Ricky beserta kru, seksi perlengkapan; Adi Rianto beserta kru, seksi konsumsi; Nyono beserta kru, seksi transportasi; Erwin beserta kru, juga beberapa petugas lainnya. Adapun sarana dan prasarana yang dikirim antara lain peralatan dekorasi, kebutuhan listrik, tenda beserta meja dan kursi, alat-alat dokumentasi, dan lain-lain.

Diperlukan empat mobil pribadi untuk mengantar para utusan dan satu unit truk untuk mengangkut sarana dan prasarana. Pada saat persiapan barang, diperlukan waktu lama untuk memuat barang-barang tersebut. Para jamaah Yayasan AKUIS saling beradu pikiran untuk memuat barang ke dalam truk. Hal tersebut dikarenakan banyaknya sarana prasarana yang akan dibawa. Namun dengan pertolongan Allah, barang-barang tersebut dapat dimuat dan siap untuk diperjalankan.

Rabu pagi para utusan berangkat dari Palembang dengan diantar oleh para jamaah. Rute yang diambil adalah jalan lintas timur Sumatera. Rombongan sampai di pelabuhan Bangkahuni, Lampung sekitar pukul 23:00. Setelah beristirahat sejenak, rombongan langsung menyeberang selat Sunda menggunakan kapal ferri. Perjalanan laut ini memakan waktu kurang lebih dua jam sebelum akhirnya rombongan tiba di pelabuhan Merak, Banten. Suatu kejadian tak terduga terjadi di pelabuhan pulau Jawa ini. Rombongan sempat terpisah, sehingga tiga mobil rombongan yang notabene belum hafal jalan dengan fasih salah ambil jalur sehingga malah mengambil jalan masuk kapal yang menuju ke pulau Sumatera kembali. Beruntung ada seorang bapak paruh baya yang tiba-tiba mengetuk pintu kaca mobil dan memberitahu rombongan bahwasanya mereka salah jalan. beruntung ketiga mobil rombongan  sempat putar balik sebelum terjebak masuk ke dalam kapal. Akibat kejadian ini, rombongan tiba di komplek kesultanan Banten agak terlambat, yaitu pada saat subuh.

Komplek kesultanan Banten tempat acara Mudzakarah Ulama, Zu Ama, dan cendikiawan Muslim ini dilaksanakan berada di kota Banten Lama, persis di belakang masjid Agung Banten. Suasana di kediaman sultan Banten ini tergolong sederhana, namun sangat asri. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan kediaman keluarga kerajaan yang bergaya lama. Di depan kediaman tersebut terdapat sungai yang membelah antara kediaman sultan dengan pintu gerbang. Di sana-sini terdapat pepohonan dan saung-saung tempat beristirahat dan duduk-duduk. Banyak pula terlihat hewan peliharaan seperti angsa dan ayam kalkun berjalan-jalan mencari makan. Di sungai terkadang kita juga dapat melihat ikan yang muncul ke permukaan. Ditambah lagi dengan keberadaan pesantren putri yang bertempat di belakang kediaman sultan, sehingga banyak santri-santri yang duduk-duduk di sekitar sungai sambil menghafal al-Quran yang mulia. Melihat kearifan alam sambil sesekali mendengar lantunan ayat-ayat al-Quran yang dilantunkan oleh para santri sungguh menyejukkan hati.

Selama dua hari para utusan dari Palembang beserta panitia lokal bahu-membahu mempersiapkan ruangan musyawarah dan sekitarnya. Segala hal yang diperlukan dipersiapkan dengan hati-hati dan teliti. Beriringan dengan hal tersebut keberadaan kopi beserta makanan ringan tak pernah habis menemani para panitia, menambah semangat dan tenaga untuk terus bekerja. Persiapan tersebut dilakukan siang dan malam sehingga terkadang para panitia ada yang tertidur kelelahan di ruang rapat yang sedang dipersiapkan, tak peduli seberapa ramainya ruangan tersebut. Dengan kehendak Allah Swt serta kerja keras para panitia yang demikian akhirnya persiapan ruang musyawarah dan sekitarnya rampung tepat waktu sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

  Mudzakarah Ulama, Zu Ama, dan Cendikiawan Muslim di Banten ini dilaksanakan tanggal 18-20 November 2017. Bertempat di kediaman sultan Banten, komplek kesultanan Banten, Banten Lama, Provinsi Banten. Dihadiri oleh imam Ahlul Halli Wal Aqdi; Dr. Orde Jauhari beserta unsur-unsur ulama Ahlul Halli Wal Aqdi, Sultan Banten; Syarief Ash-Shafiuddin Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja MBA, para Ulama, Zu Ama, dan Cendikiawan Muslim, antara lain; H. Asmuni Muchlish, A.Ma. Wahyudi K.S dari Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Prof. Dr. Hamdan Zoelva, S.H., M.A, dan lain-lain. Selama tiga hari, para Ulama, Zu Ama, dan Cendikiawan Muslim bermusyawarah, saling beradu pendapat dalam rangka menyongsong tegaknya peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Para ulama mengemukakan pendapatnya dan tausiyahnya berdasarkan al-Quran dan Sunnah. Hingga akhirnya dicapai kesepakatan bersama, ditandai dengan penandatanganan yang dilakukan oleh perwakilan peserta musyawarah.

Pada hari terakhir musyawarah, ustadz TB Fathul Adzhim Chatib selaku ketua satu Ahlul Halli Wal Aqdi dipersilahkan oleh pembawa acara musyawarah untuk menutup acara mewakili Imam Ahlul Halli Wal Aqdi, karena beliau berhalangan hadir pada hari terakhir tersebut. Namun ustadz Fathul Adzhim enggan menutup acara tersebut. Beliau beranggapan acara tersebut tak boleh ditutup karena perjuangan dalam menyongsong janji Allah Swt tegaknya ad-Dinul Islam sebagai aturan dunia yang rahmatan lil ‘alamin tak akan pernah berhenti sampai datang al-Yaqin yaitu kematian terhadap setiap diri pribadi muslim yang memperjuangkannya. Maka beliau hanya ‘mengistirahatkan’ acara tersebut sebelum nantinya diadakan musyawarah-musyawarah lainnya sebagai usaha-usaha lanjutan untuk menjemput janji Allah Swt tersebut. Setelah itu doa pun dibacakan dengan penuh kekhusyukan sebelum akhirnya ucapan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh oleh pembawa acara, resmi ‘mengistirahatkan’ musyawarah ulama, zu ama, dan cendikiawan muslim di Banten ini.IMAGE HERE[/responsive]

Setelah acara Mudzakarah Ulama, Zu Ama, dan Cendikiawan Muslim resmi ditutup, para panitia dari Palembang dan Banten mengadakan bincang-bincang untuk menyampaikan sambutan serta bincang-bincang sebagai salam perpisahan melepas panitia dari Yayasan AKUIS pulang ke Palembang. Ba’da acara tersebut panitia langsung berkemas menyiapkan sarana dan prasarana untuk dibawa kembali pulang. Pengepakan dan pemuatan barang ke atas truk selesai pukul 22:00 waktu setempat. Kemudian rombongan panitia Palembang langsung berpamitan kepada tuan rumah untuk pulang. Ruta perjalanan yang diambil rombongan untuk pulang sama dengan rute yang diambil saat kepergian. Setelah perjalanan selama 16 jam, akhirnya rombongan sampai kembali ke Yayasan AKUIS sekitar pukul 16:00 keesokan harinya.